Beranda | Artikel
Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan
9 jam lalu

Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 4 Dzulhijjah 1447 H / 21 Mei 2026 M.

Kajian Islam Tentang Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur.” (QS. Luqman[31]: 31)

Penjelasan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah sehubungan dengan makna ayat ini menegaskan bahwa sifat sabar dan syukur merupakan sebab utama seorang hamba mampu mengambil manfaat dari perenungan terhadap ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini dikarenakan iman dibangun di atas dua pilar tersebut.

Sebagaimana sebuah pernyataan dari Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in penduduk Basrah, yang menyatakan:

الإِيمَانُ نِصْفَانِ؛نِصْفٌ الصَّبْرِ وَ نِصْفٌ الشُّكْرِ

“Iman itu terbagi menjadi dua bagian; setengahnya adalah syukur, dan setengahnya lagi adalah sabar.”

Puncak Kesyukuran dan Kesabaran Seorang Hamba

Sesungguhnya puncak dari rasa syukur adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tauhid yang merupakan inti utama keimanan adalah wujud kesyukuran yang paling tinggi. Manusia mensyukuri nikmat penciptaan, pemberian rezeki, kehidupan, kematian, serta kemudahan dalam meraih kebaikan dan keselamatan dari keburukan. Wujud syukur yang paling utama adalah dengan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Sementara itu, puncak dari kesabaran adalah meninggalkan atau berpaling dari tarikan hawa nafsu. Segala bentuk kebaikan bersumber dari hati yang selalu mengingat dan tunduk mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, serta jiwa yang selalu menyelisihi keinginan nafsu yang buruk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahf[18]: 28)

Berdasarkan ayat tersebut, terdapat dua sumber utama keburukan bagi manusia. Pertama adalah hati yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mana bentuk kelalaian terbesar adalah perbuatan syirik. Sebaliknya, hati yang sehat adalah hati yang selalu beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata. Sumber keburukan kedua adalah sikap yang selalu memperturutkan hawa nafsu. Oleh karena itu, puncak kesabaran dicapai ketika seseorang mampu mengendalikan diri dari memperturutkan keinginan hawa nafsunya.

Apabila seseorang terjatuh ke dalam perbuatan syirik sekaligus selalu memperturutkan hawa nafsunya, orang tersebut pada hakikatnya bukanlah orang yang bersabar dan bukan pula orang yang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Puncak dari sabar dan syukur justru telah dilanggar olehnya. Akibatnya, ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mampu memberikan manfaat, tidak akan memberikan pengaruh positif, serta tidak akan menambah keimanan di dalam dirinya.

Penjelasan ini memberikan pemahaman mendalam bahwa ketika seorang hamba telah mampu menunaikan puncak dari kesyukuran, yaitu bertauhid, maka dia akan diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersyukur terhadap nikmat-nikmat lainnya

Sebagaimana halnya ketika seorang hamba telah mampu menunaikan puncak dari kesabaran, maka untuk bersabar dalam hal-hal yang lainnya insyaallah akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudahan tersebut termasuk ketika dia bersabar untuk merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur’an, yang merupakan sebab terbaik untuk menguatkan keimanan, menambah kesyukuran, meneguhkan kesabaran, serta menyempurnakan tauhid.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki dua pilar ini tidak akan mungkin dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala di alam semesta. Tauhid adalah puncak dari syukur, sedangkan puncak dari kesabaran adalah menahan diri dari memperturutkan hawa nafsu.

Ketika menyebutkan tentang orang-orang yang akan dianugerahi surga sebagai tempat tinggal yang kekal abadi di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at[79]: 40-41)

Ayat tersebut menunjukkan manfaat tauhid sebagai puncak kesyukuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta keutamaan berpaling dari hawa nafsu sebagai puncak kesabaran. Sabar dan syukur merupakan dua inti utama yang membangun keimanan di dalam hati seorang hamba.

Konsekuensi Keburukan dan Kesesatan

Pembahasan berikutnya memasuki pokok yang kedua, yaitu mengenai bagaimana perbuatan buruk, kesombongan, dan kedustaan dapat menggiring manusia kepada kesesatan. Jika pada pokok pertama dijelaskan bahwa kebaikan akan menggiring kepada kebaikan yang lainnya, hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan penjelasan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, konsekuensi keburukan yang membawa kepada kesesatan ini banyak ditunjukkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kesesatan bagi manusia sesuai dengan apa yang mereka perbuat di muka bumi.

Salah satu contohnya terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah[2]: 26-27)

Orang yang tersesat adalah mereka yang melakukan sebab-sebab perbuatan buruk, seperti melanggar perjanjian dengan Allah, memutuskan apa yang diperintahkan untuk disambung, serta berbuat maksiat yang merusak bumi. Perbuatan maksiat tersebut mendatangkan konsekuensi nyata berupa kesesatan dan kerugian.

Sebagai perbandingan terhadap nasib orang-orang yang melakukan kebaikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keteguhan kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim[14]: 27)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan akan menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh, yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan secara benar, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyesatkan orang-orang yang berbuat zalim dan Allah melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Fakta ini menegaskan bahwa orang-orang yang dijatuhkan ke dalam kesesatan adalah mereka yang melakukan kezaliman dan keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka tersesat sebagai konsekuensi logis dari kezaliman yang telah diperbuat. Keburukan yang dilakukan manusia mengandung konsekuensi nyata berupa datangnya kesesatan.

Di dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalas kelakuan mereka disebabkan apa yang telah mereka usahakan?” (QS. An-Nisa`[4]: 88)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan teguran mengenai perpecahan orang-orang beriman menjadi dua kelompok saat menyikapi kaum munafik. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengembalikan kaum munafik tersebut kepada kekufuran disebabkan oleh perbuatan buruk mereka sendiri. Karena keburukan yang dilakukan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka terombang-ambing di dalam kesesatan. Penjelasan ini mempertegas prinsip dasar kedua yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengenai dampak kemaksiatan.

Mengenai karakter orang-orang yang menutup diri dari petunjuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. Al-Baqarah[2]: 88)

Kaum tersebut mengeklaim bahwa hati mereka telah tertutup. Namun, hakikat yang terjadi adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kekufuran yang mereka pelihara, sehingga sedikit sekali di antara mereka yang mau beriman. Keadaan terjauhkan dari rahmat ini murni timbul karena perbuatan kufur mereka sendiri.

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai bentuk balasan lainnya:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaan, dan Kami biarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan yang sangat.” (QS. Al-An’am[6]: 110)

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membolak-balikkan hati serta pandangan mata mereka pada hari kiamat. Balasan tersebut setimpal dengan sikap mereka yang enggan mengimani kebenaran saat pertama kali datang. Pada hari kiamat, hati dan pandangan mereka dibuat berguncang serta berbolak-balik sebagai bentuk hukuman atas penolakan mereka terhadap kebenaran yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hukuman Berpaling dari Petunjuk

Seluruh ayat yang telah dipaparkan menjelaskan prinsip dasar bahwa kesesatan merupakan konsekuensi langsung dari keburukan, kedustaan, serta kezaliman yang dilakukan oleh pelakunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan di dalam Surah Al-An’am ayat 110 bahwa Dia menghukum hamba-Nya karena keengganan mereka untuk beriman. Ketika kebenaran datang dan telah mereka ketahui, mereka justru memilih untuk berpaling.

Sebagai balasannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hati dan pandangan mereka berbolak-balik, serta menghalangi mereka dari manisnya keimanan. Ketika manusia memilih untuk berpaling, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan hati mereka. Keburukan yang dilakukan secara sadar memicu datangnya balasan berupa kesesatan, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup rapat hati mereka dari keimanan. Hal ini sejalan dengan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Surah Al-Anfal ayat 24.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera dalam kebaikan melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal[8]: 24)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk memenuhi seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya ketika mengajak kepada hal yang memberikan kehidupan yang hakiki serta indah bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memberikan peringatan agar orang-orang beriman tidak tertinggal atau terlambat dalam menyambut seruan tersebut. Penundaan tersebut dapat menjadi sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalangi manusia dari hatinya, sehingga hati tersebut tidak lagi mampu menerima keimanan sebagai balasan yang setimpal atas keengganan di awal.

Hal ini menjadi peringatan keras mengenai bahaya menunda-nunda dalam menerima kebenaran serta keengganan untuk segera bertobat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat peringatan telah melayangkan ketukan di dalam dada. Terdapat sebagian orang yang berpikir bahwa tobat dapat ditunda hari esok, nanti sore, atau saat menginjak usia tua. Anggapan tersebut keliru karena tidak ada yang mampu menjamin usia manusia akan mencapai waktu yang diangan-angankan. Selain itu, kalaupun usia tersebut tersampaikan, tidak ada jaminan bahwa hati yang bersangkutan masih terbuka untuk menerima kebenaran.

Hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati manusia hanya dikuasai oleh-Nya, dan Dia Maha Kuasa untuk membolak-balikkan kondisi hati tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَقُول إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلِّهَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ من أَصَابِع الرَّحْمَن كقلب وَاحِد يصرفهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya hati semua anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Yang Maha Pemurah seperti satu hati saja, Dia membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim)

Keterbukaan hati untuk menerima kebenaran pada hari ini bukan menjadi jaminan keadaan yang sama pada hari esok, terutama bagi orang yang sengaja menunda seruan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai kaum yang berpaling:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Saff[61]: 5)

Disebabkan oleh keengganan hati mereka sendiri, Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memalingkan hati mereka. Sebagai Zat Yang Maha Kuasa atas jiwa manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang fasik sebagai balasan atas perbuatan mereka sendiri.

Selain dipalingkan, hati yang terus-menerus melakukan kemaksiatan juga terancam tertutup dari hidayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 14)

Ayat ini menjelaskan bahwa tertutupnya hati dari menerima kebenaran disebabkan oleh tumpukan dosa masa lalu yang tidak segera ditaubati oleh pelakunya.

Mengenai proses terbentuknya penutup hitam yang meliputi hati tersebut, sahabat Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam di hatinya. Jika ia meninggalkan dosa tersebut, beristigfar, dan bertobat, maka hatinya akan kembali bersih.” (HR. Tirmidzi)

Apabila perbuatan dosa seorang hamba terus bertambah, titik hitam di hatinya pun akan ikut bertambah hingga menutupi seluruh permukaan hatinya. Itulah makna ar-ran atau penutup hitam yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 14)

Penafsiran ini menjelaskan proses tertutupnya hati yang terjadi secara bertahap. Membiarkan perbuatan dosa tanpa segera bertobat dan membersihkannya membuat kotoran tersebut menumpuk dan menebal. Akibatnya, seluruh permukaan hati menjadi tertutup dan semakin sulit untuk dibersihkan, kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa perbuatan buruk pada masa lalu merupakan faktor yang menutupi hati mereka, sekaligus menjadi penghalang bagi hati tersebut untuk beriman kepada ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika penutup itu telah sempurna, mereka bahkan mencela Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘Ini adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu’.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 13)

Sikap ini membuat mereka sama sekali tidak dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sarat akan kebaikan dan keberkahan.

Hukuman Melupakan Allah ‘Azza wa Jalla

Mengenai karakter orang-orang munafik, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam ayat lain:

نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. At-Taubah[9]: 67)

Pengertian kata “lupa” bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat ini bukanlah sifat lupa karena tidak ingat, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna ilmu-Nya dan suci dari sifat lupa. Arti dilupakan di sini adalah mereka tidak diberikan petunjuk kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan yang setimpal atas kelalaian mereka, yaitu dengan tidak mengingat mereka dalam pemberian petunjuk dan rahmat-Nya.

Dampak lain dari sikap melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dijadikan lupa terhadap kemaslahatan diri sendiri, sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr[59]: 19)

Hukuman berupa lupa kepada diri sendiri ini berakibat pada hilangnya kesadaran untuk mencari kebaikan, serta lupa terhadap sebab-sebab yang dapat menyelamatkan diri dari kebinasaan. Ketika seseorang telah berada pada fase ini, dia tidak akan tergerak untuk mencari kesempurnaan diri melalui pembelajaran ilmu yang bermanfaat dan pengamalan amalan saleh. Padahal, ilmu yang bermanfaat dan amal saleh merupakan hakikat dari petunjuk dan agama yang benar yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut rasa cinta, pengenalan, serta semangat mereka terhadap kebaikan sebagai bentuk hukuman karena mereka telah melupakan-Nya.

Seluruh dalil tersebut memperkuat pokok pembahasan kedua bahwa kesesatan merupakan konsekuensi logis dari sikap berpaling, kezaliman, kedustaan, serta berbagai keburukan lainnya yang dilakukan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kondisi orang-orang yang durhaka ini di dalam Al-Qur’an:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (QS. Muhammad[47]: 16-17)

Ayat ini memberikan gambaran yang jelas mengenai dua kelompok manusia. Kelompok pertama adalah orang-orang munafik yang hatinya telah dikunci mati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mereka selalu memperturutkan hawa nafsunya. Sementara itu, kelompok kedua adalah orang-orang yang selalu menyambut petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melimpahkan tambahan hidayah serta menganugerahkan ketakwaan ke dalam hati mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan dua perkara sebagai bentuk balasan bagi orang-orang munafik, yaitu kecenderungan mengikuti hawa nafsu dan kesesatan yang menjadi buah serta konsekuensinya. Seseorang yang memilih untuk memperturutkan hawa nafsu akan memetik hasil berupa kesesatan, serta dipalingkan dari jalan dan petunjuk kebenaran. Kondisi ini berbalik dengan orang-orang yang mendapat petunjuk, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (QS. Muhammad[47]: 17)

Bagi hamba-hamba yang selalu mengikuti petunjuk-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan antara ketakwaan dan hidayah yang senantiasa ditambah serta disempurnakan di dalam diri mereka.

Ikhtiar Perbaikan Diri

Penjelasan ini sangat bermanfaat agar manusia mengetahui cara mengusahakan perbaikan diri, sekaligus mengenali sumber segala keburukan yang terjadi. Keburukan timbul saat seseorang menjauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperturutkan hawa nafsu, serta tidak berusaha melawan tipu daya setan dengan berpegang teguh pada petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla dan petunjuk Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pembahasan materi tersebut telah selesai. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan dapat diambil pelajaran untuk semakin meningkatkan semangat dalam berpegang teguh pada kebenaran serta mengikuti petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun langkah tersebut dilakukan sedikit demi sedikit, ikhtiar tersebut menjadi sebab terbukanya pintu-pintu kebaikan berikutnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian akan menyempurnakan kebaikan dan ketakwaan bagi hamba-hamba yang istikamah di atas petunjuk-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan dalam urusan ini bagi semuanya.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianSabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56300-sabar-dan-syukur-sebagai-fondasi-keimanan/